Selasa, 24 November 2015

Feature

Memiliki Satu Tangan Tidak Menjadikan Suatu Keterbatasan

Rabu,28 Oktober 2015
Kelengkapan  fisik pasti merupakan suatu hal yang wajib untuk semua orang,terlebih jika seseorang berprofesi atau mencintai dunia olahraga,tetapi bagaimana jika kita hanya memiliki satu tangan saja? Apakah dengan kekurangan fisik yang kita miliki itu menjadi hambatan untuk kita melakukan sesuatu yang kita cintai bahkan mengubur potensi atau talenta yang kita miliki? Jika itu yang ada di benak kalian,saya harap kalian akan membuang pikiran itu jauh-jauh setelah kalian menyimak kisah dari gadis ini.
Bethany Meilani Hamilton,lahir di Hanalei,Kauai,Hawaii,8 Februari 1990.Ia mulai berselancar tahun 1992,ketika ia berusia 2 tahun.Ia juga mengikuti kompetisi selancar pada usia 8 tahun di Hawaii dan memiliki karir cemerlang diusianya dimana ia mengikuti berbagai kompetisi, memenangkan banyak piala dalam bidang selancar serta mensponsori berbagai merek ternama termasuk papan selancar dengan brand ternama Rip Curl dan Tim Carroll Sufboards.
Karir cemerlang di usia remaja,bahkan sebelum ia menginjak masa dewasa membuat Bethany Hamilton mengalami perubahan besar dalam hidupnya. Pada tanggal 31 Oktober 2003 pagi, pada usia 13 tahun,Hamilton pergi bermain selancar di sepanjang Tunnels Beach, Kauai dengan teman akrabnya Alana Blanchard,ayah dan saudara laki-laki Alana.Sekitar pukul 7:30 pagi,dikitari banyak kura-kura di daerah itu,ia berbaring di atas papan selancar dengan lengan kirinya menggantung bebas di dalam air,ketika seekor ikan hiu yang panjangnya 5 meter menggigit lengan kirinya sehingga putus sampai di dekat pundaknya.Hal ini sempat membuat orang-orang berpikir, bahwa hal tersebut merupakan akhir dari karirnya dalam berselancar.
Kehilangan satu lengan,membuat Bethany mengalami trauma.Tak mau menyerah dan berdiam diri,satu bulan setelah kejadian tersebut,ia pulih dari perawatan rumah sakit dan segera meluncur kembali ke air.Menyesuaikan diri dengan satu tangan saat melakukan segala hal bahkan saat berselancar membuat ia sempat mengalami gejolak emosi dan tekanan dalam dirinya.Jika dahulu ia dapat meyeimbangkan tubuh diatas papan selancar dengan dua tangan, kini ia hanya mampu menggunakan satu tangan saja.Menghadapi hal tersebut,Bethany tak sendirian,ia memiliki dukungan penuh dari keluarganya.Ayahnya pun membantu memodifikasi papan selancarnya agar mudah digunakan oleh Bethany saat berselancar dan mengajarinya sebuah teknik yang baru.
Ketika Tsunami tahun 2005 di Thailand,Bethany memiliki keinginan untuk pergi melakukan kegiatan sosial.Ia mencoba mengajari anak-anak yang menjadi korban bencana untuk berselancar,dari hal tersebut ia belajar banyak hal. Ia memiliki gairah untuk berselancar dan mewujudkan impiannya menjadi peselancar.Bethany merasa termotivasi.Akhirnya ia mengikuti berbagai pertandingan.Gadis itu menantang tingginya gelombang.
 Pada tanggal 10 Januari 2004,ia mulai berlaga dalam pertandingan utama.Sekarang ia bertanding dengan papan pendek untuk pertandingan.Pada bulan Juli 2004,Hamilton memenangkan Best Comeback Athlete ESPY Award (Atlit terbaik yang bertanding kembali).Pada tahun 2005,Hamilton meraih juara pertama dalam National Scholastic Surfing Association (NSSA) National Championships,satu sasaran yang hendak dicapainya sebelum serangan ikan hiu.Pada tahun 2008, ia mulai bertanding penuh dalam Association of Surfing Professionals (ASP) World Qualifying Series (WQS).Dalam kompetisi pertamanya melawan banyak peselancar wanita terkemuka di dunia,ia meraih juara ke-2.
Kehidupan setelah kehilangan satu tangannya telah di ceritakan berbagai media,Cerita perjuangan hidup Bethany Hamilton digambarkan dalam autobiografinya tahun 2007 yang menjadi best seller dan film yang berjudul Soul Surfer.Sampai saat ini, Bethany ikut serta dalam kegiatan amal dan memiliki sebuah forum khusus dinamakan Friends of Bethany,yang membuat banyak anak muda terinspirasi olehnya.Ia mendapatkan berbagai penghargaan dari berbagai negara,salah satunya sebagai ‘Woman of The Sea’ dari The Surf Industry Manufacturers Association (SIMA) .Bethany juga berkeliling dunia yang salah satunya adalah Indonesia, untuk melakukan kegiatan sosial dan membantu orang lain untuk bangkit dari keterpurukan.

“Saya tidak akan mengubah hal yang terjadi pada saya. Saya lebih banyak memiliki kesempatan merangkul orang lain dengan satu tangan daripada ketika memiliki dua tangan” itulah jawaban Bethany ketika di tanyai banyak orang tentang kehidupannya dengan satu lengan.Bukalah mata,bangkit,dan berjuang kalahkan dirimu sendiri,serta percayalah,jika kita memiliki kepercayaan segalanya tidak ada yang mustahil,dan ketika kita menghadapi masalah,jangan pernah menyerah kalah,karena kita jauh lebih besar dari hambatan dan keterbatasan itu.

Referensi : http://angelinakusuma.blogspot.co.id/2011/05/bethany-hamilton-soul-surfer-inspiring.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar