Memiliki
Satu Tangan Tidak Menjadikan Suatu Keterbatasan
Rabu,28 Oktober 2015
Kelengkapan fisik pasti merupakan suatu hal yang wajib
untuk semua orang,terlebih jika seseorang berprofesi atau mencintai dunia
olahraga,tetapi bagaimana jika kita hanya memiliki satu tangan saja? Apakah
dengan kekurangan fisik yang kita miliki itu menjadi hambatan untuk kita
melakukan sesuatu yang kita cintai bahkan mengubur potensi atau talenta yang
kita miliki? Jika itu yang ada di benak kalian,saya harap kalian akan membuang
pikiran itu jauh-jauh setelah kalian menyimak kisah dari gadis ini.
Bethany Meilani Hamilton,lahir di
Hanalei,Kauai,Hawaii,8 Februari 1990.Ia mulai berselancar tahun 1992,ketika ia
berusia 2 tahun.Ia juga mengikuti kompetisi selancar pada usia 8 tahun di
Hawaii dan memiliki karir cemerlang diusianya dimana ia mengikuti berbagai
kompetisi, memenangkan banyak piala dalam bidang selancar serta mensponsori
berbagai merek ternama termasuk papan selancar dengan brand ternama
Rip Curl dan Tim Carroll Sufboards.
Karir cemerlang di usia remaja,bahkan sebelum
ia menginjak masa dewasa membuat Bethany Hamilton mengalami perubahan besar
dalam hidupnya. Pada
tanggal 31 Oktober 2003 pagi, pada usia 13 tahun,Hamilton pergi bermain
selancar di sepanjang Tunnels Beach, Kauai dengan
teman akrabnya Alana
Blanchard,ayah dan saudara laki-laki Alana.Sekitar pukul 7:30 pagi,dikitari
banyak kura-kura di daerah itu,ia berbaring di atas papan selancar dengan lengan kirinya menggantung
bebas di dalam air,ketika seekor ikan hiu yang panjangnya 5 meter menggigit
lengan kirinya sehingga putus sampai di dekat pundaknya.Hal ini sempat membuat orang-orang berpikir, bahwa hal
tersebut merupakan akhir dari karirnya dalam berselancar.
Kehilangan satu lengan,membuat Bethany
mengalami trauma.Tak mau menyerah dan berdiam diri,satu bulan setelah kejadian
tersebut,ia pulih dari perawatan rumah sakit dan segera meluncur kembali ke
air.Menyesuaikan diri dengan satu tangan saat melakukan segala hal bahkan saat
berselancar membuat ia sempat mengalami gejolak emosi dan tekanan dalam
dirinya.Jika dahulu ia dapat meyeimbangkan tubuh diatas papan selancar dengan dua
tangan, kini ia hanya mampu menggunakan satu tangan saja.Menghadapi hal
tersebut,Bethany tak sendirian,ia memiliki dukungan penuh dari keluarganya.Ayahnya
pun membantu memodifikasi papan selancarnya agar mudah digunakan oleh Bethany
saat berselancar dan mengajarinya sebuah teknik yang baru.
Ketika Tsunami tahun 2005 di Thailand,Bethany
memiliki keinginan untuk pergi melakukan kegiatan sosial.Ia mencoba mengajari
anak-anak yang menjadi korban bencana untuk berselancar,dari hal tersebut ia
belajar banyak hal. Ia memiliki gairah untuk berselancar dan mewujudkan
impiannya menjadi peselancar.Bethany merasa termotivasi.Akhirnya ia mengikuti
berbagai pertandingan.Gadis itu menantang tingginya gelombang.
Pada tanggal 10 Januari 2004,ia mulai berlaga dalam pertandingan
utama.Sekarang ia bertanding dengan papan pendek untuk pertandingan.Pada bulan
Juli 2004,Hamilton memenangkan Best Comeback Athlete ESPY Award (Atlit terbaik yang bertanding kembali).Pada tahun 2005,Hamilton
meraih juara pertama dalam National Scholastic Surfing Association (NSSA) National Championships,satu sasaran yang hendak dicapainya
sebelum serangan ikan hiu.Pada tahun 2008, ia mulai bertanding penuh dalam Association of Surfing Professionals (ASP) World Qualifying Series (WQS).Dalam kompetisi pertamanya
melawan banyak peselancar wanita terkemuka di dunia,ia meraih juara ke-2.
Kehidupan setelah
kehilangan satu tangannya telah di ceritakan berbagai media,Cerita perjuangan hidup Bethany Hamilton digambarkan dalam
autobiografinya tahun 2007 yang menjadi best seller dan film yang berjudul Soul Surfer.Sampai
saat ini, Bethany ikut serta dalam kegiatan amal dan memiliki sebuah forum
khusus dinamakan Friends of Bethany,yang membuat banyak anak muda terinspirasi olehnya.Ia
mendapatkan berbagai penghargaan dari berbagai negara,salah satunya sebagai
‘Woman of The Sea’ dari The Surf Industry Manufacturers Association (SIMA) .Bethany
juga berkeliling dunia yang salah satunya adalah Indonesia, untuk melakukan
kegiatan sosial dan membantu orang lain untuk bangkit dari keterpurukan.
“Saya tidak
akan mengubah hal yang terjadi pada saya. Saya lebih banyak memiliki kesempatan
merangkul orang lain dengan satu tangan daripada ketika memiliki dua tangan”
itulah jawaban Bethany ketika di tanyai banyak orang tentang kehidupannya
dengan satu lengan.Bukalah mata,bangkit,dan berjuang kalahkan dirimu
sendiri,serta percayalah,jika kita memiliki kepercayaan segalanya tidak ada
yang mustahil,dan
ketika kita menghadapi masalah,jangan pernah menyerah
kalah,karena kita jauh lebih besar dari hambatan dan keterbatasan itu.
Referensi : http://angelinakusuma.blogspot.co.id/2011/05/bethany-hamilton-soul-surfer-inspiring.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar